KOMUNIKASI

Makna Komunikasi

Di antara penyebab terjadinya komunikasi adalah karena adanya persepsi (perception) yaitu cara pandang atau penilaian seseorang terhadap objek. Persepsi merupakan bagian dari proses identifikasi atau pelebelan atau penamaan terhadap suatu barang atau benda atau sifat tertentu. Pada proses terjadinya persepsi dipengaruhi oleh pengalaman dan pendidikan yang disebut sebagai memori. Memori inilah yang mempengaruhi pola pikir seseorang sebelum akhirnya menyimpulkan atau membuat persepsi tersebut.

Adanya perubahan persepsi merupakan salah satu penyebabterjadinya komunikasi. Ketidaksamaan pandangan, pemikiran, atau pemberian arti terhadap sesuatu objek mengakibatkan orang lain harus mencari kesamaan tersebut melalui komunikasi. Komunikasi sendiri menurut Onong Uchjana Effendy (2002) berasal dari bahasa inggris “communication” dan bahasa latin “communicatio” yang berarti sama, sama disini adalah sama makna. Artinya, tujuan dari komunikasi adalah untuk mmbuat persamaan antara sender atau pengirim pesan dan reicever atau penerima pesan. Keberhasilan komunikasi ditanda oleh adanya persamaan persepsi terhadap makna atau membangun makna (construct meaning) secara bersama pula. Berlangsungnya komunikasi juga menyebabkan terjadinya hubungan anatara penyampai pesan dengan penerima pesan. Dari segi hubungan, komunikasi seseorang dengan yang lain dapat dilihat dari segi :
1.      Frekuensi Hubungan
Adalah sering tidaknya seseorang mengadakan hubungan atau kontak sosial dengan orang lain. Makin sering seseorang mengadakan hubungan dengan orang lain, makin baik hubungan sosialnya.
2.      Intensitas Hubungan
Yaitu mendalam atau tidaknya seseorang dalam mengadakan hubungan/kontak sosialnya.
3.      Popularitas Hubungan
Yaitu banyak atau sedikitnya teman dalam hubungan sosial.
Setidaknya ada lima komponen atau unsur penting dalam komunikasi yang harus kita perhatikan yaitu : pengirim pesan (sender), pesan yang dikirimkan (message), bagaimana pesan tersebut dikirimkan (delivery channel atau media), penerima pesan (receiver), dan umpan balik (feed back).
Agar tercipta hubungan yang baik maka komunikator sebagai penyampai pesan harus menyampaikan maksud dengan baik pula, yang kemudian dapat diterima, dimengerti, dan selanjutnya ditanggapi oleh komunikan. Tanggapan atau reaksi dari komunikan ini penting karena merupakan umpan balik (feed back) yang menunjukan bagaimana pesan itu diterima oleh komunikan.

Unsur-unsur Pesan yang Mempengaruhi Komunikasi Anda
Dalam menjaga hubungan kita dengan sesamadiperlukan komunikasi yang baik, untuk itu diperlukan beberapa cara dalam mengemas pesan yang harus diperhatikan oleh komunikator yaitu :
v  Berusaha benar-benar mengerti orang lain. Ini adalah dasar dari apa yang diebut emphatetic communication (komunikasi empatik). Ketika kita berkomunikasi dengan orang lain, kita biasanya “berkomunikasi” dalam salah satu dari empat tingkat. Kita mungkin mengabaikan orang lain itu dengan tidak serius membangun hubungan yang baik. Kita mungkin berpura-pura. Kita mungkin secara selektif berkomunikasi pada saat kita memerlukannya atau kita membangun komunikasi yang atentif (penuh perhatian), tetapi tidak benar-benar dari dalam diri kita. Bentuk komunikasi tertinggi adalah komunikasi empatik, yaitu melakukan komunikasi untuk terlebih dahulu mengerti orang lain-memahami karakter dan maksud/tujuan atau peran orang lain.
v  Kebaikan dan sopan santun yang sering kita anggap sebagai sikap atau perilaku yang sederhana, tetapi hal itu sangat penting dalam suaut hubungan-karena hal-hal yang kecil adalah hal-hal yang besar dalam membangun hubungan komunikasi.
v  Mengembangkan komunikasi yang efektif adalah sikap menghargai setiap individu yang menjadi saran pesan yang kita sampaikan. Rasa hormat dan saling menghargai merupakan hukum yang pertama dalam kita berkomunikasi dengan orang lain. Ingatlah bahwa pada prinsipnya manusia ingin dihatgai dan dianggap penting. Jika kita harus mengkritik atau memarahi seseorang, lakukan dengan penuh respek terhadap harga diri dan kebanggaan seseorang. Jika kita membangun komunikasi dengan rasa dan sikap menghargai dan menghormati maka kita dapat membangun kerja sama yang menghasilkan sinergi yang akan meningkatkan efektivitas kinerja kita, baik sebagai individu maupun secara keseluruhan sebagai sebuah tim.
v  Empati (Empathy)
Empati adalah kemampuan kita untuk menempatkan diri kita pada situasi atau kondisi yang dihadapi oleh orang lain. Salah satu prasyarat utama dalam memiliki sikap empati adalah kemampuan kita untuk mendengarkan atau mengerti terlebih dahulu sebelum didengarkan atau dimengerti oleh orang lain. Rasa empati akan memampukan kita untuk dapat menyampaikan pesan (message) dengan cara dan sikap yang akan memudahkan penerima pesan (receiver) menerimanya. Oleh karena itu, dalam keluarga, setiap anggota keluarga harus memahami perilaku masing-masing (individual behavior) merupakan keharusan. Dengan memahami perliaku anggota keluarga maka kita dapat empati dengan apa yang menjadi kebutuhan, keinginan, minat, harapan, dan kesenangan orang tua terhadap anak atau sebaliknya anak kepada orang tuanya. Demikian halnya dengan bentuk komunikasi lainnya, misalnya komunikasi dalam membangun kerja sama tim. Kita perlu saling memahami dan mengerti keberadaan orang lain dalam tim kita. Rasa empati akan menimbulkan respek atau penghargaan dan rasa respek akan membangun kepercayaan yang akan membangun yang merupakan unsur utama dalam membangun teamwork. Jadi, sebelum kita membangun komunikasi atau mengirimkan pesan, kita perlu mengerti dan memahami dengan empati calon penerima pesan kita. Empati bisa juga berarti kemampuan untuk mendengar dan bersikap perseptif atau siap menerima masukan ataupun  umpan balik apapun dengan sikap yang positif. Banyak sekali dari kita yang tidak mau mendengarkan saran, masukan apalagi kritik dari orang lain. Padahal, esensi dari komunikasi adalah aliran dua arah. Komunikasi satu arah tidak akan efetif manakala tidak ada umpan balik (feed back) yang merupakan arus balik ari penerima.
v  Audible
Makna dari audible antara lain: dapat didengar atau dimengerti dengan baik. Jika empati kita harus mendengar terlebih dahulu ataupun mampu menerima umpan balik dengan baik maka audible berarti pesan yang kita sampaikan dapat diterima oleh penerima pesan. Hukum ini mengatakan bahwa pesan harus disampaikan melalui media atau delivery channel sedemikian hingga dapat diterima dengan baik oleh penerima pesan. Hal ini mengacu pada kemampuan kita untuk menggunakan berbagai media maupun perlengkapan atau alat bantu audio visual yang akan membantu kita agar pesan yang kita sampaikan dapat diterima dengan baik.
v  Humble
Membangun komunikais yang efektif adalah sikap yang rendah hati. Sikap ini merupakan unsur yang terkait dengan hukum pertama untuk membangun rasa menghargai orang lain, biasanya didasari oleh sikap rendah yang kita miliki. Sikap rendah hati, pada intinya antara lain : sikap yang penuh melayani, sikap menghargai, mau mendengra dan menerima kritik, tidak sombong dan memaafkan, lemah lembut dan penuh pengendalian diri, serta mengutamakan kepentingan yang lebih besar.

Sifat Komunikasi Mempengaruhi Hasil Akhir
Pada dasarnya, komunikasi digunakan untuk menciptakan atau meningkatkan akivitas hubungan antara manusia atau kelompok.
Jenis komunikasi terdiri dari :
ü  Komunikasi verbal (dengan kata-kata)
ü  Komunikasi nonverbal (disebut bahasa tubuh)

Pesan Verbal
Simbol atau pesan verbal adalah semua jenis simbol yang menunjukan satu kata atau lebih. Bahasa dapat juga dianggap sebagai sistem kode verbal (Deddy Mulyana, 2005). Bahasa dapat didefiniskan sebagai seperang simbol dengan atauran untuk mengombinasikan simbol-simbol tersebut, yang digunakan adan dipahami suatu komunitas.
Jalaluddin Rakhmat (1994), mendefinisikan bahasa secara fungsional dan formal. Secara fungsional, bahasa diartikan sebagai alat yang dimilki untuk mengungkapkan gagasan. Ia menekankan dimiliki bersama karena bahsa hanya dapat dipahami bila ada kesepakatan diantara anggota-anggota kelompok sosial untuk menggunakannya. Secara formal, bahasa diartikan sebagai semua kalimat yan terbayangkan, yang dapat dibuat menurut peraturan tata bahasa. Setiap bahasa mempunyai peraturan bagaimana kata-kata harus disusun dan dirangkaikan supaya memberi arti.

Pesan Nonverbal
Komunikasi nonverbal adalah komunikasi yang menggunakan pesan-pesan nonverbal. Istilah noverbal biasanya digunakan untuk melukiskan semua peristiwa komunikasi diluar kata-kata terucap dan tetulis. Secara teoritis, komunikasi nonverbal dan komunikasi verbal dapat dipisahkan. Namun, dalam kenyataannya, kedua jenis komunikasi ini saling menjalin, saling melengkapi dalam komunikasi yang kita lakukan sehari-hari.

Fungsi Pesan Nonverbal
Mark L. Knapp (dalam Jalaludin, 1994), menyebut lima fungsi pesan nonverbal yang dihubungkan dengan pesan verbal:
·         Repetisi, yaitu mengulang kembali gagasan yang sudah disajikan secara verbal. Misalnya, setelah menyatakan penolakan saya, saya menggeengkan kepala saya.
·         Subtitusi, yaitu menggantikan lambang-lambang verbal. Misalnya, tanpa sepatah katapun kita berkata, kita menunjukkan persetujuan dengan mengangguk-anggukan kepala.
·         Kontradiksi, menolak pesan verbal atau memberi makna lain terhadap pesan verbal. Misanya, anda ‘memuji’ prestasi teman dengan mencibirkan bibir, seraya berkata “Hebat, kau memang hebat”
·         Komplemen yaitu melegkapi atau meperkaya makna pesan nonverbal. Misalnya, air muka anda menunjukkan tingkat penderitaan yang tidak terungkap dengan kata-kata.
·         Aksentuasi, yaitu menegaskan pesan verbal atau menggarisbawahi. Misalnya, anda mengungkapkan betapa jengkelnya anda dengan memukul meja.

Daftar Pustaka
Hidayat, Dasrun. 2012. Komunikasi Antarpribadi dan Medianya. Yogyakarta: Graha Ilmu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Nicotine Replacement Therapy (NRT)